by : Akbar Bahar
Dorongan
untuk berinteraksi dan berhimpun dalam suatu komunitas adalah fitrah manusia
yang tidak dapat dibendung dengan katup apapun. Dia seiring dengan rencana
penciptaan Allah SWT atas manusia. Manusia yang diciptakan-Nya terdiri dari
laki-laki dan perempuan, lalu Dia jadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa,
agar mereka saling berinteraksi.
Adalah
fitrah, atau keadaan awalnya manusia untuk selalu membutuhkan sesamanya untuk
dia ajak bersama-sama menjalani kehidupannya. Tidak ada manusia yang dapat
hidup secara normal di dalam kesendirian tanpa teman. Manusia butuh
kebersamaan, yang dengan kebersamaan itu dia bangun wadah, wadah tempatnya
mengaktualisasikan diri, mengekspresikan pikirannya dan mengembangkan kreativitasnya.
Dengan wadah itu dia perjuangkan tujuan bersamanya.
Kekuatan,
drive atau dorongan inilah yang
menjadi pendorong bagi sekelompok anak muda di Dusun Satoa untuk menghimpun
diri mereka dalam suatu komunitas. Sehari-hari mereka berkumpul di simpang tiga
jalan Poros Makassar-Bone dengan perkampungan baru di Kalihoe. Tempat itu
dikenal dengan nama Ampi’-Ampirie.
Kegiatan
mereka pada tahap awal masih sederhana, mereka berkumpul pada waktu senggang
dan bercengkrama satu sama lain, sebagaimana layaknya para remaja mengisi waktu
luangnya. Mereka memanfaatkan Pos Kamling yang dibangun persis di simpang tiga
jalan ke Maddenge.
Kebersamaan
memiliki dinamikanya sendiri, dinamika yang lama-kelamaan akan menghadirkan
kesadaran baru, harapan baru dan tuntutan baru. Kebersamaan ini ternyata tidak
cukup hanya berkumpul, nongkrong, bersenda gurau atau menggeleng ke kiri dan ke
kanan melihat mobil yang lewat di depan Pos Kamling tempat nongkrong mereka.
Mereka
butuh sesuatu yang lebih dari sekedar berkumpul, mereka butuh identitas. Dan
identitas itu harus diawali dengan pemilikan sebuah nama.
Ya…
Sebuah Nama…
Rupanya
tempat berkumpul mereka, Ampi’-Ampirie memberi inspirasi akan sebuah nama. Nama
yang sederhana tapi mempunyai makna yang akrab. Sederhana namun menunjukkan
suatu identitas dengan jelas.
Nama
itu adalah… “AMPER” singkatan dari “Anak Ampi’-Ampirie”.
Dengan
nama itu dimulailah perjalanan aktualisasi diri dari para anak muda ini.
Aktualisasi diri yang pada hakekatnya adalah dambaan naluriah dari setiap anak
manusia. Dorongan aktualisasi diri yang menjadi motivasi dari terjadinya
peristiwa dan karya-karya besar.
Dari
hari ke hari upaya peneguhan eksistensi mulai berlangsung dengan berbagai bentuknya.
Nama mereka ukir di tempat-tempat strategis di wilayah mereka. Mereka
menampilkan diri dalam berbagai kegiatan meskipun masih terbatas . Tegasnya
mereka telah menancapkan tonggak awal dari suatu organisasi remaja di Pattiro
Deceng. Ini adalah kurun waktu antara tahun 1995 sampai tahun 2003. Anak-anak
AMPER telah melakukan berbagai aktivitas untuk memuaskan tuntutan hati mereka
sebagai kaum muda yang selalu terdorong untuk mengaktualkan dirinya,
menunjukkan bahwa dirinya ada dan patut diperhitungkan.
Kegiatan-kegiatan
diadakan dengan memanfaatkan kehadiran mahasiswa-mahasiswa yang melakukan
Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Pattiro Deceng ini. Bekerja sama dengan
mahasiswa Universitas Muhammadiyah di gelar “Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK)”
yang pertama dengan mengambil tempat di Kantor Desa Pattiro Deceng yang saat
itu sedang dalam proses penyelesaian. Pada acara perpisahan dengan Mahasiswa
peserta KKN UNISMUH itu, mereka tampilkan sebuah “Drama Perjuangan” dengan
bintang pelaku yang saat ini sudah berstatus ibu-ibu dan bapak-bapak. Sebuah
acara “Renungan” mereka gelar melalui kerja sama dengan Pengurus Kecamatan
Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Mesjid (BKPRMI) Camba.
Pada
era itu struktur organisasi AMPER belum tertata dengan sistematis.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan diserahkan tanggung jawab pelaksanaannya pada
panitia yang dibentuk khusus untuk kegiatan yang bersangkutan. Kepemimpinan
diselenggarakan secara kolektif diantara para senior AMPER.
Bulan
April 2003, melalui interaksi yang intensif dengan Mahasiswa KKN Universitas
Islam Makassar, digelar Musyawarah Besar I (MUBES I) AMPER. Di dalam MUBES I
ini ditetapkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga AMPER. Struktur
Organisasi ditata dengan baik, pemilihan Ketua dilakukan dan terpilih Fahrul Arsyad
sebagai Ketua AMPER periode 2003-2005. Musyawarah Besar I ini juga membahas
nama “AMPER” sebagai singkatan dari “Anak Ampi’-Ampirie”. Nama itu dirasa tidak
cukup lagi untuk mewakili keberdaan mereka. Ukuran organisasi ini tidak lagi
sebatas Ampi’-Ampirie. Di lain pihak, nama “AMPER” bagi mereka adalah identitas
yang tidak boleh diganti. Nama itu harus dipertahankan tapi dengan mengganti
kepanjangannya. Melalui perdebatan panjang yang nyaris berujung kebuntuan,
mereka sepakat untuk mencantumkan dalam Anggaran Dasar bahwa “AMPER” adalah
singkatan dari “Anak Muda Pemerhati Rakyat”.
Musyawarah
Besar I ini adalah titik awal dimulainya era eksistensi AMPER sebagai
organisasi remaja yang memenuhi kaidah organisasi yang ideal. Berbagai kegiatan
dilaksanakan sebagai upaya peneguhan eksistensi. Bekerjasama dengan Mahasiswa
Universitas Islam Makassar digelar “Pengkaderan” bagi anggota dengan tujuan
untuk memberikan pencerahan dan penguatan spiritual bagi para anggota AMPER.
Bekerjasama dengan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar digelar
“Pencerahan Keagamaan” yang bertujuan untuk memberi pengetahuan keagamaan.
Aktivitas yang bernuansa religius ini banyak dilakukan untuk mengimbangi
dinamika anak-anak AMPER pada masa itu. Dinamika yang sering “meledakkan” gejolak
yang mengantar anak-anak muda ini berpindah dari satu konflik ke konflik yang
lain. Di masa ini eksistensi AMPER sering diwarnai konflik dengan anak-anak
remaja dari desa lain. Ajang keramaian di tingkat kecamatan sering menjadi
arenanya anak AMPER untuk menyalurkan kelebihan energi yang dimilikinya.
Sungguh suatu dinamika yang secara psikologis adalah wajar bagi usia remaja,
namun selalu dibayangi oleh resiko. Resiko yang harus dieliminir untuk mencegah
jatuhnya korban yang lebih banyak. Cukup sudah AMPER kehilangan beberapa orang
anggotanya akibat pengaruh samping dari dinamika itu.
Pertengahan
2007 digelar Musyawarah Besar II (MUBES II) AMPER. MUBES II menetapkan Adi
Mahmud sebagai Ketua AMPER. Dalam MUBES II ini juga mengemuka wacana pergantian
kepanjangan dari nama “AMPER”. Pengertian “Anak Muda Pemerhati Rakyat” dirasa
memberi beban yang sangat berat pada organisasi remaja ini. Bagi mereka peranan
untuk memperhatikan rakyat adalah klaim yang berlebihan dari sebuah organisasi
remaja seperti mereka. Mereka sepakat untuk mencari kepanjangan lain dari
“AMPER” karena “AMPER” bagi mereka adalah Trade
Mark atau identitas yang tidak boleh diganti, mereka harus mencari
kepanjangan lain yang lebih realistik dan jelas. Kembali terjadi perdebatan
panjang untuk sebuah nama. Dan rupanya kebanggaan pada desa tempat bermukimnya
menginspirasi mereka akan sebuah nama “Angkatan Muda Pattiro Deceng“ sebagai
kepanjangan yang baru dari “AMPER”.
Bahtera
baru Angkatan Muda Pattiro Deceng diluncurkan. Berbagai kegiatan dilaksanakan
untuk memberi makna pada eksistensi. Karena eksistensi tanpa perbuatan adalah
eksistensi tanpa kehormatan.
13
Februari 2010 digelar Musyawarah Besar III (MUBES III) Angkatan Muda Pattiro
Deceng (AMPER). Ditetapkan Adi Mahmud untuk memimpin AMPER kembali periode
2010-2012. Di dalam MUBES III mengemuka pemikiran untuk memperluas sifat
keanggotaan AMPER. Kalau selama ini anggota AMPER hanyalah pemuda dan remaja
yang bermukim di Desa Pattiro Deceng, maka dirasa perlu untuk menampung minat
remaja yang berasal dari luar Desa Pattiro Deceng. Ini didasari oleh sifat dari
organisasi AMPER yang terbuka dan realita kekinian yang menuntut sikap terbuka.
AMPER tidak boleh menutup diri namun harus tetap mempertahankan jati dirinya. Identitas
Angkatan Muda Pattiro Deceng harus tetap dipertahankan tapi dalam hal
keanggotaan dapat menerima remaja dari luar Desa Pattiro Deceng dalam lingkup
Kecamatan Camba yang berminat untuk menyemarakkan kebersamaan di dalam AMPER.
Berbagai
kegiatan AMPER di tahun 2010 sampai dengan awal tahun 2011 sebagai kelanjutan
dari MUBES III dilaksanakan Rapat Kerja di Bantimurung untuk merealisasikan
program kerja sebagaimana yang diamanatkan oleh MUBES III AMPER.
Peringatan
Milad ke VII AMPER digelar pada tanggal 1 Mei 2010 dengan mengangkat tema “Dengan Semangat Kebersamaan Kita Perkuat
Eksistensi melalui Pengabdian dan Kreativitas”.
Pada
pelaksanaan pesta panen Kecamatan Camba musim tanam 2009-2010, AMPER mendapat
kepercayaan untuk menempati hampir seluruh
posisi kepanitiaan. Pesta Panen yang dihadiri oleh Bapak Wakil Gubernur Sulawesi
Selatan itu berlangsung dengan sukses.
Melalui
kerja sama dengan Ikatan Mahasiswa Camba Mallawa Cenrana (IMCMC) digelar
kegiatan Seminar Kepemudaan. Seminar ini
dimaksudkan sebagai wahana tukar pikiran antara pemuda dengan birokrasi tingkat
kecamatan dan kabupaten.
Dalam
rangka turut berpartisipasi pada program penghijauan PNPM dilakukan penanaman
pohon bekerjasama dengan Mahasiswa KKN
UNM Angkatan ke-24, Siswa/Siswi peserta PKL SMK 3 dan SMK 6 Takalar dan
beberapa organisasi pemuda Kecamatan Camba.
Untuk
mempersiapkan diri memasuki bulan Ramadhan 1431 H dilaksanakan perkemahan
jelang Ramadhan dan sekaligus membahas program yang akan dilksanakan dalam
mengisi bulan suci tersebut. Dalam bulan suci ramadhan 1431 H dilaksanakan
kegiatan yang diberi nama “Satu Orang Satu” atau disingkat SOS. Konsep dari
kegiatan itu adalah acara buka puasa bersama dengan anak penghuni panti asuhan
Al-Mubarak Camba, dimana satu orang anggota AMPER menanggung biaya buka puasa
satu orang anak penghuni panti asuhan.
Setiap
organisasi harus mampu memperoleh informasi dari luar untuk memperoleh gambaran
dirinya secara obyektif. Seperti kata orang bijak bahwa “... dengan sebuah cermin kita bisa melihat wajah kita, tapi dengan dua
buah cermin kita bisa sekaligus melihat tengkuk kita ... “. Beberapa
tanggapan, harapan dan saran pun menegemuka dari dari para orang tua terhadap
AMPER, yang bisa menjadi bahan introspeksi untuk meningkatkan kualitas langkah
di masa datang.
Sumber
energi bagi sesorang untuk mengikatkan diri dalam suatu kebersamaan adalah
HARAPAN. Harapan akan apa yang dapat diperolehnya dari kebersamaan itu. Harapan
inilah yang kemudian diakumulasi menjadi sebuah tindakan real yang nantinya
akan membuat organisasi AMPER kan selalu eksis.

No comments:
Post a Comment